Amanah
Senja itu
Saat mega merah menghiasi langit biru
Duduk diantara rimbunan rumput hijau
bergoyang
Menyimak kucuran air ditepian sungai
Aku berangan aku ingin menjadi air
Walau ia keruh dan berwarna coklat
Ia tetap mengalir dengan tenang
Batu yang menghalang ia lewati dengan mudahnya
Seperti tak ada beban seperti tak ada
masalah
Tuhan…
Kau taruh pada pundak kami beban
khalifah
Yang harus menjaga keseimbangan dunia
ini
Namun, kami luput oleh dunia itu
sendiri
Pakain yang Kau titipkan Ini, harta yang Kau titipkan ini
Seakan telah membutakan mata kami
Membisukan mulut kami
Menutup nurani kami dengan mendung
kelabu
Ya raab….
Tuhan yang menguasai hati manusia
Saat Kau tunjuk gunung untuk menjadi
khalifah ia tak menyanggupi
Saat Kau perintah matahari ia tak dapat
menjawab
Ketika Kau tunjuk manusia, dengan
berani kita mengatan sanggup
Dalam sujudku ku, ku buka tangan
mengadah pada-Mu
Tuhan… aku iri pada rumput, aku malu
pada dedunan
Setiap saat mereka mensucikan nama-Mu
Setiap waktu mereka berdzikir menyebut
nama-Mu
Dalam renungku…
Kapan, kapan dan kapan?
Aku bisa mengemban amanat yang lebih
berat dari bumi itu
Dalam sujudku aku selalu menghaturkan doa
Allahumma Ij’alni
Taqiyan,Mu’adaban,’Afifan, Dzakkiyan, munjizan lil mawa’id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar