Kita katu kota kuta
Hening pasir menyusuri bentangan pantai
Seolah menggiring dalam damai
Terseret ombak, terbawa angin
Membawa dalam khayalan keindahan
Hangatnya sang mentari pagi
Seakan menarikku dalam kenangan
Mencabik seluruh kegundahan
Melucuti kebosanan dalam sanubari
Keindahan garis alam disini
Eloknya paras pulau dewata ini
Dengan kesantunan yang dipertontonkan penduduknya
Telah menggambarkan miniature bumi khatulistiwa
Sejenak, kurasakan palung terdalam hati
Tersesat pada heningnya kedamaian kuta
Terpencilkan dari hiruk-pikuknya kekerasan ibukota
Kusadar, betapa siluetnya negri ini
Tak salah, jika kau berjuluk dewata
Telah kau sajikan embun berlian pada sorotan mata
Hidangan budaya, mengalir deras kau pertontonkan
Cawan madu, seolah tak hentinya melumat dahaga
Bentangan Gunung Batur hingga Serayu yang membelah
Tak menjadikan budayamu meleleh lelah
Kecak, Janger, Pendet terolah indah dengan tarian
Jegog, Gong gade, Selunding bertabuh merdu melantun
Tergores dalam benak ini
Kau tulis dengan pahat emas dihati ini
Bahwa budaya tak akan pernah mati
Tak akan modar digiling traktor moderinisasi
Kita katu kota kuta, kita katu kota kuta
Kita katu kota kuta, kita katu kota kuta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar