Sajak Untuk Tuan
Kami
Kau tuangkan susu pada kami, sebelum
tubamu
Diantara kerinduan akan hikayat mimpi
indahmu
Seribu kaki kami melangkah dalam
keindahan pesonamu
Agungkan nama dan janji yang terlontar
dari mulutmu
Ya….
Ketika kami masih lugu akanmu
Ketika topeng itu masih melekat erat
diwajah buruk itu
Wajah yang seharusnya tak pantas untuk
mimipi-mimpi indah kami
Tuan….
Kau pantulkan hancurmu dalam genangan
air tenang
Kau timbun sampahmu dalam pasir emas
Kau kah itu? Yang hanya inginkan kursi
singgasana
Kau yang mengutamakan cacing diperutmu
dari pada mereka yang bergelut dengan liurmu
Pantaskah jika kau harus aku puji?
Kau telan mentah-mentah daging kami
Dengan pesona kegelapanmu kau remukan
tulang-tulang kami
Belum puaskan kau menyayat hati murni
kami?
Tuan….
Kami bukan manusia dengan harapan
tinggi
Kami hanya impikan kabahagian
Bukan secarik emas yang kami minta
Hanya secawan air dan segenggam nasi
yang memenuhi perut kami
Apakah harapan kami berlebihan?
Masihkah kau seperti memikul batu besar
pada pundakmu?
Tuan…
Pantaskan apa yang pantas untukmu
Dan berikan apa yang seharusnya kau
beri pada kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar