Pangeran Pattimura
Berbisik
diatas telinga
Menghembuskan
desir nafas dengan senggal
Gemuruh
jantung terdengar hingga putusnya asa
Derap yang
terdengar begitu membisingkan telinga
Terkadang
kemenangan bukan pilihan utama
Namun hanya
jiwa keberanian yang diuji
Kabut pasir
yang membumbung tingi
Menutup
setiap wajah yang berpeluh keringat
Parang
yang tersingkap didada seakan lapar
Kuda yang
dipacu berderik mengangkat suara
Aungan
para singa medan perang berkoar membakar huru-hara
Hanya ada
satu panglima yang berdiri paling depan
Pattimura…
Pangeran
tanah dayak
Peggempur
pertahanan belanda yang menggumkan
Wajah garang
yang terus terpampang
Mengucilkan
keberanian penjajah
Bumi khatulistiwa
yang makmur
Hijau dengan
pepohonan rindang menjadi memar
berlubang
Darah yang
mengenang seakan seperti kubangan lumpur becek
Seakan
sudah jadi pandangan biasa setelah peperangan
Patimura
yang agung
Seakan
hidup bersama semangat juang bujang Kalimantan
Ia memang
gugur dimedan perang
Namun hidup
dihati kami
Abadi bersama
udara Kalimantan yang hangat
Keberanian
yang selalu diutarakan pada kami
Kobaran
semangat yang disulut dihati kami
Seakan
sudah manjadi darah daging dan tulang kami
Tak akan
lekang oleh waktu
Tak akan
berlumut dimakan umur
Tak akan
lebur dihantam angin zaman
Kami hidup
karena pangeran pattimura ada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar